10 Kiat Membentuk Selera Makan

Salah satu kiatnya jangan kenalkan dengan rasa manis, asin, dan gurih. Apalagi bayi belum mengenal rasa, jadi tak masalah. Kelak, ia akan memiliki selera makan yang sehat. Betul, Mam, selera makan seseorang dibentuk semenjak bayi. Bila dicermati, umumnya setiap orang memiliki selera makan yang berbeda-beda. Ada yang suka manis, ada yang asin, gurih, namun tak menutup kemungkinan ada pula yang netral. Nah, selera makan tersebut umumnya terbentuk sejak diperkenalkan dengan Makananan Pendamping ASI (MPASI) di usia bayi, tepatnya usia 6 bulan.

Seperti yang dimuat pada Kajian Implementasi ASI Eksklusif, Kementerian Kesehatan RI, mengacu pada imbauan dari badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) bahwa bayi mulai mengonsumsi MPASI di usia 6 bulan. Pemberian MPASI berlangsung dalam 3 tahap, berawal dari makanan lumat, dilanjutkan makanan lembek, kemudian makanan keluarga. Makanan lumat diberikan kepada bayi usia 6—9 bulan, sedangkan makanan lembek diberikan di usia 9—12 bulan.

Selanjutnya, mulai usia 1 tahun diperkenalkan dengan makanan keluarga. Makanan lumat dan makanan lembek yang diberikan hendaknya mengandung zat gizi lengkap, terdiri atas: sumber karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Untuk itu, kenalkan bayi dengan beragam bahan makanan. Pengenalan beragam bahan makanan, rasa, dan tekstur ini, selain berguna untuk memperkaya zat gizi MPASI, juga untuk membantu penyerapan zat-zat gizi yang lain. Mengenalkan keberagaman ini juga akan membentuk kebiasaan makan si bayi.

Kelak ia tidak akan menjadi anak yang pilih-pilih makanan. William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N. dalam bukunya The Baby Book, menulis, bayi-bayi yang memasuki masa kanakkanak dengan rasa manis, lemak, atau asin dalam rongga mulutnya cenderung akan melanjutkan hal ini di sepanjang masa kanakkanaknya dan mungkin juga hingga dia dewasa. Hal ini sejalan dengan teori William Sears, yaitu bila wilayah rasa di lidah bayi dan usus yang sedang berkembang selalu dihadapkan pada makanan sehat selama tiga tahun pertama, maka anak akan menolak makanan sampah kelak.

Teori tersebut dilontarkan William setelah melakukan penelitian pada anaknya. Selama tiga tahun pertama, William tidak memasukkan garam, gula ataupun lemak jahat yang berlebihan dalam menu makanan bayi mereka, bahkan tidak mengonsumsi junkfood. Hasilnya, ketika si anak berumur tiga tahun dan diajak ke pesta ulang tahun yang penuh dengan ”rasa manis, krim, dan cokelat”, si anak tentu saja memakan kue-kuenya, namun ia tidak menggila saat mengonsumsi makanan tersebut. Bahkan, baru hampir setengah jalan makan kue-kue tersebut, anaknya berkata, “Perutku enggak enak.” Selanjutnya, si anak langsung menghentikan makannya.

Agar anak mahir dalam berbahasa asing berikan ia pelatihan di kursus berbahasa Perancis di jakarta yang tebaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *