Seribu Kegagalan dan Seribu Kesuksesan

Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan menjadi seorang Ibu. Namun mengapa kita kadang merasa gagal? Jadi mama baru itu rasanya seperti naik jetcoster: naik, turun, naik, turun tak ada berhentinya. Capek? Ya…, jangan ditanya lagi, sudah pastilah. Namun dengan menjadi mama, seorang perempuan otomatis menjadi manusia yang “kaya”.

“Info tempat terbaik kursus bahasa Jerman di Jakarta Selatan ” sat-jakarta.com

Kaya pengalaman, kaya sabar, kaya petualangan, kaya perasaan, kaya segala-galanya. Kita tidak pernah akan tahu apa yang berada di depan sana. Tahu-tahu, anak yang selalu kita anggap masih bayi bisa ini, bisa itu. Banyaaak banget kejutannya. Menjadi seorang mama ibaratnya sama seperti bekerja dengan ikhlas. Tak kenal henti meski itu hari libur atau tanggal merah di kalender.

Ya, menjadi ibu adalah full time job indeed! Tak disangkal lagi ibu pasti memiliki seribu momen penting dan berharga dengan kehadiran si buah hati ke dunia yang melengkapi kehidupan berkeluarga. Bisa jadi juga ibu mengalami seribu kesuksesan dan kegagalan, atau bahkan lebih selama menjalankan peran se bagai seorang mama. Penuh petualangan, perjuangan, pengorbanan dan pantang menyerah.

Semua Tak Harus Sempurna

Afi ah (33), mama dari Fikri (3) bercerita, momen kebahagiaan sebagai mama pertama kali yang dirasakan adalah ketika memastikan bahwa sang buah hati lahir dengan kondisi sehat tak kurang apa pun. Keinginan selalu memberikan yang terbaik untuk sang buah hati menjadi komitmen awalnya.

Tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga, ternyata tidak semua peran mama itu bisa dijalankan dengan sempurna, salah satunya memberikan ASI. “Di bulan pertama sebagai ibu saya merasa frustrasi. Anak laki-laki saya menuntut ASI yang banyak. Tapi ASI saya tidak banyak. Enggak tega rasanya mendengar tangisan Fikri setiap minta ASI lagi.

Dengan perasaan sedih dan terpaksa, saya berikan ia susu formula, namun seperti saat menyusui, ia saya gendong dan dekap. Jujur, kondisi saya yang tidak dapat memberikan ASI ini membawa trauma tersendiri untuk memiliki anak kedua, Tak hanya soal ASI, ketaksempurnaan saya lainnya terkait soal waktu.

Saya adalah ibu bekerja, maka saya hanya bisa menemani dan merawat Fikri secara penuh di 3 bulan pertama saja. Dan seperti ibu-ibu bekerja lainnya, saya berusaha memberikan perawatan maksimal saat saya bersamanya, yaa… saya hanya bisa berusaha memberikan yang terbaik dengan apa yang saya miliki.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *