Asyiknya Main Di Luar Rumah

Sesekali, ajak si batita bermain di halaman rumah atau di taman. Selain mendapat udara segar, manfaatnya pun banyak. Pada suatu kesempatan, Melanie Putria, Puteri Indonesia 2002, berbagi cerita tentang Sheemar Rahman Purwadireja (3). “Suatu ketika aku ajak ia ke sebuah taman. Tak disangka, ia takut dengan rumput di taman itu. Ia langsung berlari menjauh. Itu momen yang sangat menohok kalbu. Ini tak benar.

Terus aku biasakan mengajak ia pergi ke taman atau area terbuka lainnya. Ayo buka sepatu, berani kotor atau kami jogging bersama. Sekarang ia senang aktivitas outdoor dan tampak happy.” Melanie sangat senang, buah hatinya kini menyukai kegiatan outdoor. Menurutnya, aktivitas ­ sik di luar ruang sangat penting bagi batita. “Kalau saat bayi, mungkin banyak di rumah, ya. Tapi begitu batita, saya sering bawa anak keluar.

Dampaknya, anak jadi percaya diri, tak takut, berinteraksi sosial, sekaligus menyehatkan. Bergerak dan berkeringat itu sehat, lo. Anak tak perlu takut terjatuh, yang penting kita ikut terlibat dalam aktivitas atau mengawasi. Bonding sama anak pun makin tercipta.” Ya, betul banget, Mam. Batita yang aktif di luar rumah, umumnya lebih mudah beradaptasi, juga terasah keseimbangan otak kiri dan kanan sehingga cepat berkembang.

Si batita pun jadi lebih sigap, sehat, dan bugar bila melakukan aktivitas ­ sik di luar rungan. Selain juga menambah kedekatan orangtua dan anak saat melakukan aktivitas di luar ruangan. Seperti diketahui, usia batita merupakan masa pusat pertumbuhan, pembentukan, dan penyempurnaan ­ sik. Di sisi lain, dunia batita adalah dunia bermain. Oleh sebab itu, Mama Papa harus mengajak si kecil bermain, bukan hanya di dalam ruangan, melainkan juga di luar ruangan. Apalagi, dengan bermain di luar ruangan, anak bisa mendapatkan banyak ruang gerak yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan, dan penyempurnaan ­fisiknya.

Jika anak hanya berada di dalam rumah, apalagi sejak mengenal teknologi, anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gadget/video games, akan berakibat tidak baik untuk kesehatan mata dan rentang perhatian anak. Belum lagi, jika selama bermain games atau menonton teve di rumah, anak ditemani pula dengan aneka camilan yang nantinya berdampak pada bertambahnya berat badan anak. Hati-hati, si kecil bisa mengalami kegemukan! Ayo Mama Papa, ajak si batita bermain di luar secara rutin. Hati senang, pertumbuhan pun optimal.

Disamping itu, untuk anak yang akan menghadapi ujian IELTS sebaiknya berikan ia persiapan di tempat les persiapan IELTS Jakarta yang terbaik.

10 Kiat Membentuk Selera Makan Bagian 2

Nah, agar kelak si kecil memiliki selera makan yang sehat, Mama Papa dapat melakukan 10 kiat berikut:

1. Jangan tambahkan aneka perasa pada MPASI. Bayi tidak mengenal de­ nisi hambar, ia baru belajar mengenai rasa. Jadi jangan khawatir bayi akan menolak ketika makanannya tidak diberi garam, gula atau aneka perasa lainnya. Justru kalau sudah dibiasakan dengan pemberian makanan non-hambar sejak dini, sampai dewasa pun ia akan lebih menyukai makanan nonhambar dan gampang menolak makanan yang cenderung hambar.

2. Hindari makanan dengan pemanis buatan, terlalu banyak gula, dan sirop jagung. Makanan yang terlalu manis akan berefek buruk, di antaranya dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, kerusakan gigi, dan gizi buruk. Gizi buruk sangat mungkin terjadi karena gula memiliki nilai gizi yang rendah, namun kaya akan energi.

3. Hindari masakan yang mengandung minyak buatan (hydrogenated oil). Penggunaan minyak buatan untuk menggoreng makanan dapat berdampak mengurangi kadar kolesterol baik dan meningkatkan risiko serangan jantung.

4. Sajikan lebih banyak makanan segar daripada makanan dalam kaleng/ kemasan. Makanan dalam kemasan mengandung sodium nitrat dan ada pula yang mengandung sodium benzoat. Kedua bahan ini berbahaya karena dapat memengaruhi tubuh serta berisiko terkena diabetes dan kanker usus besar. Sedangkan sodium benzoat dapat berdampak cukup buruk bagi tubuh karena membuat sistem imun menjadi semakin lemah.

5. Sajikan lebih banyak serealia/padi-padian (beras, gandum, tepung gandum). Makanan serealia kaya akan serat. Penting mencermati jumlah serat yang dikonsumsi, karena bermanfaat untuk mencegah terjadinya sembelit atau konstipasi. Selain juga sebagai sumber energi. 6. Hindari makanan dengan perisa buatan, pewarna, dan bahan tambahan/additives. Tambahan perisa, pewarna sintetis dan bahan additives dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama pada fungsi hati dalam tubuh.

7. Hindari pemberian garam. Pemberian garam (yang mengandum sodium) terlalu dini kepada bayi bisa menyebabkan ginjalnya rusak. Selain itu, pada saat dewasa, mereka lebih mudah terkena hipertensi (tekanan darah tinggi).

8. Perkenalkanlah bumbu rempah pada bayi. Untuk menghindari terjadinya gangguan pada pencernaan sekaligus menghindari reaksi alergi, perkenalkan bayi dengan rempah-rempah, seperti: temu kunci, lengkuas, daun salam, daun jeruk, kunyit, ketumbar, vanila, kayu manis, dan lain-lain. Bumbu yang menyengat, seperti lada, hindari dahulu sampai anak berusia di atas 1 tahun.

9. Kenalkan dan tunggu selama 3—5 hari. Kenalkan bayi dengan beragam bahan makanan. Untuk mengenalkan satu bahan makanan baru, terapkan aturan “tunggu selama 3—5 hari”, bila tidak ada perubahan pertanda bayi dapat menerima.

10. Pastikan makanan tersebut aman dan mengandung asupan gizi yang dibutuhkan. Perkenalkan bahan makanan yang kaya akan gizi dan diperlukan untuk pertumbuhan bayi. Utamanya, mengandung zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin, mineral) dalam jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhkan bayi seusianya.

10 Kiat Membentuk Selera Makan

Salah satu kiatnya jangan kenalkan dengan rasa manis, asin, dan gurih. Apalagi bayi belum mengenal rasa, jadi tak masalah. Kelak, ia akan memiliki selera makan yang sehat. Betul, Mam, selera makan seseorang dibentuk semenjak bayi. Bila dicermati, umumnya setiap orang memiliki selera makan yang berbeda-beda. Ada yang suka manis, ada yang asin, gurih, namun tak menutup kemungkinan ada pula yang netral. Nah, selera makan tersebut umumnya terbentuk sejak diperkenalkan dengan Makananan Pendamping ASI (MPASI) di usia bayi, tepatnya usia 6 bulan.

Seperti yang dimuat pada Kajian Implementasi ASI Eksklusif, Kementerian Kesehatan RI, mengacu pada imbauan dari badan kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) bahwa bayi mulai mengonsumsi MPASI di usia 6 bulan. Pemberian MPASI berlangsung dalam 3 tahap, berawal dari makanan lumat, dilanjutkan makanan lembek, kemudian makanan keluarga. Makanan lumat diberikan kepada bayi usia 6—9 bulan, sedangkan makanan lembek diberikan di usia 9—12 bulan.

Selanjutnya, mulai usia 1 tahun diperkenalkan dengan makanan keluarga. Makanan lumat dan makanan lembek yang diberikan hendaknya mengandung zat gizi lengkap, terdiri atas: sumber karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Untuk itu, kenalkan bayi dengan beragam bahan makanan. Pengenalan beragam bahan makanan, rasa, dan tekstur ini, selain berguna untuk memperkaya zat gizi MPASI, juga untuk membantu penyerapan zat-zat gizi yang lain. Mengenalkan keberagaman ini juga akan membentuk kebiasaan makan si bayi.

Kelak ia tidak akan menjadi anak yang pilih-pilih makanan. William Sears, M.D. dan Martha Sears, R.N. dalam bukunya The Baby Book, menulis, bayi-bayi yang memasuki masa kanakkanak dengan rasa manis, lemak, atau asin dalam rongga mulutnya cenderung akan melanjutkan hal ini di sepanjang masa kanakkanaknya dan mungkin juga hingga dia dewasa. Hal ini sejalan dengan teori William Sears, yaitu bila wilayah rasa di lidah bayi dan usus yang sedang berkembang selalu dihadapkan pada makanan sehat selama tiga tahun pertama, maka anak akan menolak makanan sampah kelak.

Teori tersebut dilontarkan William setelah melakukan penelitian pada anaknya. Selama tiga tahun pertama, William tidak memasukkan garam, gula ataupun lemak jahat yang berlebihan dalam menu makanan bayi mereka, bahkan tidak mengonsumsi junkfood. Hasilnya, ketika si anak berumur tiga tahun dan diajak ke pesta ulang tahun yang penuh dengan ”rasa manis, krim, dan cokelat”, si anak tentu saja memakan kue-kuenya, namun ia tidak menggila saat mengonsumsi makanan tersebut. Bahkan, baru hampir setengah jalan makan kue-kue tersebut, anaknya berkata, “Perutku enggak enak.” Selanjutnya, si anak langsung menghentikan makannya.

Agar anak mahir dalam berbahasa asing berikan ia pelatihan di kursus berbahasa Perancis di jakarta yang tebaik.