Sistem yang Kebal Crash

Sistem operasi (OS) modern masih mewarisi konsep program seabad lalu, dimana terdiri dari serangkaian perintah (command) yang saling berkaitan. Konsep seperti masih jauh dari optimal dalam memanfaatkan teknologi multi core CPU. Konsep lama ini juga berdampak dengan dunia malware. Meskipun OS telah menyediakan mekanisme sekuriti Antivirus, antisipasinya kerap terlambat di saat sistem terlanjur rusak.

Oleh karena itu, konsep baru program dengan koreksi mandiri perlu dihadirkan. Seperti yang dicetuskan peneliti Peter Bentley (University College London) dengan konsepnya yang terinspirasi alam. “Proses alami bersifat tidak terpusat (decentralized), fault-tolerant, dan self-healing”, jadi komputer pun harusnya juga demikian”, tandas Bentley.

Program yang menyingkirkan eror

Prinsip Systemic Computing (SC) berbeda dengan prinsip saat ini (list-model). Sebuah program SC dapat dibuat dari beragam sistem yang dapat saling dikombinasikan. Setiap sistem terdiri dari tiga komponen: dua input data dan sebuah kernel sebagai pengolah dan output data. Hasilnya, setiap sistem bisa berperan sebagai input data untuk sistem lain. Sebuah program SC bisa diibaratkan seperti boneka Rusia Matryoshka yang menampung beberapa klon boneka kecilnya di bagian dalam.

Sistem dijalankan separelel mungkin untuk menghindari terjadinya crash total pada sistem. Selain itu, terdapat beberapa mekanisme untuk mengantisipasi terjadinya kesalahan sistem, misalnya salinan yang identik dapat dianalisis dan ditolah oleh sistem koreksi. Cakupan aplikasi pun dapat didefinisikan untuk sistem. Awalnya, Systemic Computing baru diterapkan di bidang tertentu, seperti sistem lalu lintas atau aeronautika yang membutuhkan sistem bebas eror. Sistem saat ini masih rentan eror, termasuk sistem BIOS yang ada di PC.

Untuk itu, HP pun mulai menerapkan mekanisme reparasi BIOS SureStart pada jajaran notebook bisnisnya, seperti EliteBook dan ZBook. Notebook tersebut menyimpan salinan BIOS asli dan Master Boot Record (MBR) dalam memori khusus. Apabila keduanya rusak (corrupt), misalnya karena serangan malware, salainanya cukup di-restore. Lain lagi dengan Brendan Eich dari Mozilla yang ingin menerapkan feature cek sumber pada browser Fire fox. Tujuannya agar kemungkinan adanya manipulasi source code, seperti penyadapan NSA belakangan ini bisa dicegah.

Pemerintah AS pun mendorong pengembangan software selfhealing. Akhir 2013 lalu, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) menyelenggarakan kompetisi sistem self-healing Cyber Grand Challenge. Di sini, sistem harus bisa memperbaiki diri dari serangan malware. Pada tahap awal, DARPA menyediakan serangkaian file executable yang tidak aman dan sistem harus bisa menemukan dan menyingkirkan adanya eror. Self-healing baru akan diintegrasikan pada tahap final yang berlangsung tahun depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *